Minggu, 01 Juli 2012

SEJARAH TERJADINYA PERANG DIPONEGORO

sejarah perang diponegoro, perang diponogoro
Sejarah terjadinya perang diponegoro dalam artikel ini mencoba mendeskripsikan sejarah terjadinya perang diponegoro. Di antara tahun 1825-1830 Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur dilanda oleh perang besar yang hampir-hampir meruntuhkan kekuasaan imperialis Belanda di Indonesia. Peperangan tersebut dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, yaitu seorang bangsawan kesultanan Yogyakarta. Bagaimana timbulnya perang besar itu secara garis besarnya diterangkan sebagai berikut:

Riwayat Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro lahir pada tahun 1785 dengan nama kecil Antawirya, putera sulung Sultan Hamengkubuwono III dari selir. Pada masa remajanya diasuh oleh Ratu Ageng (janda Sultan Hamengkubuwono I) di Tegalrejo kira-kira 1 km di sebelah barat stasiun Yogyakarta. semasa hidupnya beliau berusaha memperdalam agama Islam, sering bertapa di gua Langse dan sangat memntingkan masalah-masalah rohaniah. Sikapnya terhadap rakyat amat baik dan selalu memperhatikan nasibnya. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono V (Mas Menol), Pangeran Diponegoro diangkat menjadi wali raja, karena pada saat itu Sultan Hamengkubuwono V masih di bawah umur.

Pangeran Diponegoro mengangkat senjata melawan imperialis Belanda pada tahun 1825-1830, dan wafat pada tanggal 8 Januari 1855. Sebagai penghargaan perjuangannya, pemerintah Indonesia mengangkat Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan nasional, rumah kediaman beliau di Tegalrejo dibangun dijadikan Monumen Diponegoro, nama diponegoro diabadikan menjadi nama kesatuan Divisi Jawa Tengah.

Sebab-sebab Pangeran diponegoro Melawan Belanda

Pangeran Diponegoro berjuang melawan imperialis Belanda bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk menegakkan kemerdekaan dan keadilan. Mengenai hal ini dapat diterangkan di bawah ini:
1. Kaum bangsawan Kesultanan Yogyakarta merasa tidak puas, karena:
  • Mereka dilarang oleh Belanda untuk menyewakan tanahnya kepada pengusaha-pengusaha swasta untuk perkebunan-perkebunan. Sebab itu merupakan saingan bagi Belanda yang mengusahakan perkebunan-perkebunan juga.
  • Daerah Kesultanan Yogyakarta yang terletak di antara Pekalongan dan Semarang dirampas oleh Belanda.
  • Kekuasaan dan kewibawaan para bangsawan makin terdesak oleh Belanda, baik dipusat maupun di daerah-daerah.
2. Kaum Ulama Islam makin kecewa, karena makin meluasnya adat kebiasaan barat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Padahal ajaran Islam bagi kaum ulama merupakan alat untuk pendidikan moral. Oleh karena kaum ulama memandang bahwa keburukan moral itu bersumber dari Belanda, maka Belanda harus disingkirkan.
3. Rakyat jelata makin menderita akibat adanya bermacam-macam pungutan pajak dan macam-macam kewajiban kerja paksa.

Peristiwa meletusnya perlawanan Pangeran Diponegoro

Pada tahun 1825, Belanda bermaksud menyambung dan memperlebar jalan melalui tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro dengan tidak minta izin lebih dulu kepada Pangeran Diponegoro. Hal itu menyebabkan Pangeran Diponegoro marah karena mengesampingkan beliau sebagai wali raja. Waktu diadakan pemasangan pancang-pancang oleh suruhan Belanda, pancang-pancang itu dicabuti oleh suruhan Pangeran Diponegoro. Wakil Belanda ialah Residen Smissaert, meminta kepada Pangeran Mangkubumi (paman Pangeran Diponegoro) untuk memanggil Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Mangkubumi bertemu dengan Pangeran Diponegoro malahan menggabungkan diri dengan Pangeran Diponegoro. Maka pada tanggal 20 Juli 1825, rumah kediaman Pangeran Diponegoro di Tegalrejo diserang dan dikepung oleh pasukan berkuda di bawah pimpinan Chevalier dengan maksud untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Dalam pertempuran itu Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi sempat meloloskan diri dengan menunggang kuda. Setelah Belanda mengetahui bahwa Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi dapat meloloskan diri, maka rumah Pangeran Diponegoro dibakar oleh Belanda. Sejak itu Pangeran Diponegoro bertekad melawan Belanda untuk menegakkan kemerdekaan dan keadilan.

Jalannya Peperangan Diponegoro

Pangeran Diponegoro beserta Pangeran Mangkubumi setelah berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda, lalu menuju ke Kalisaka. Di sana pengikut yang berdatangan semakin banyak. Para bangsawan Yogyakarta dan rakyat biasa berduyun-duyun datang menggabungkan diri, sehingga Kalisaka tidak dapat menampungnya dan dipindahkan ke Selarong. di sinilah Pangeran Diponegoro memusatkan pertahanannya dan mengatur pasukannya. Inti pasukan Pangeran diponegoro dibagi memnjadi beberapa batalyon, dan setiap batalyon diberi nama sendiri, misalnya: Turkiya, Arkiya, dan sebagainya. Batalyon-batalyon itu diperlengkapi dengan senjata api beserta peluru-peluru yang dibuat di huatan-hutan. Dalam perang melawan Belanda, Pangeran Diponegoro mempergunakan sistem perang gerilya, yaitu tidak pernah mengadakan penyerangan secara besar-besaran, tetapi hanyalah perang lokal secara tiba-tiba saja. Siasat ini ternyata sangat menguntungkan pasukan Pangeran Diponegoro sebab sulit untuk diatasi oleh Belanda. Berkali-kali Selarong diserang oleh Belanda, tetapi pasukan Pangeran Diponegoro telah mengundurkan diri lebih dahulu. Baru setelah Belanda pergi dari Selarong, tentara Pangeran Diponegoro kembali ke Selarong. Demikian berkali-kali pasukan Belanda menyerang Selarong selalu mendapatkan tempat itu telah kosong. Waktu itu ada seorang ulama termasyhur dari Surakarta bernama Kyai Maja turut menggabungkan diri memperkuat pasukan Pangeran Diponegoro. Untuk menghindari serbuan Belanda, Pangeran Diponegoro memindahkan pusat pertahanannya ke Daksa (sebelah barat laut Yogyakarta). maka selanjutnya serangan-serangan terhadap Belanda dilakukan dari Daksa sebagai pusat pertahanan yang baru. atas desakan rakyat, para bangsawan dan ulama, Pangeran Diponegoro mengangkat dirinya sebagai kepala negara dengan gelar "Sultan Abdulhamid Herucakra Amirulmukminin Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa". Setelah diadakan penobatan lalu didirikan pusat negara ialah Plered dengan pertahanan yang kuat. hal itu dilakukannya untuk menjaga kemungkinan apabila mendapat serangan dari pihak Belanda sewaktu-waktu. Pertahanan daerah Plered ini ditangani oleh Kerta Pengalasan.

Usaha untuk memperkuat pertahanan di Plered itu ternyata ada manfaatnya. Pada tanggal 9 Juni 1826, Belanda dengan kekuatannya yang besar berusaha menyerang Plered. Karena pertahanan di Plered sudah diperkuat, maka usaha Belanda itu tidak berhasil. Selanjutnya untuk meningkatkan pertahanan di Plered itu Kerta Pengalasan diganti oleh dua orang pemuda yang gagah berani, yaitu Sentot yang bergelar Ali Basah Prawiradirja dan Prawirakusuma yang kedua-duanya masih berusia 16 tahun. Pada permulaan Juli 1826, Belanda mengulangi serangannya ke Daksa lagi. Oleh Pangeran Diponegoro, Daksa telah dikosongkan terlebih dahulu. Maka waktu tentara Belanda kembali dari Daksa untuk menuju ke Yogyakarta, dengan tiba-tiba dihadang dan dibinasakan oleh pasukan Pangeran Diponegoro dari tempat persembunyiannya. Setelah mendapat kemenangan itu pasukan Pangeran Diponegoro dengan secepat kilat menghilang dari Daksa. Beberapa bulan setelah mendapat kemenangan itu, atas anjuran Kyai Mojo (penasehat Pangeran Diponegoro), Pangeran Diponegoro mengadakan penyerangan besar terhadap daerah Surakarta. Pada bulan Oktober 1826, pasukan Pangeran Diponegoro menyerang Belanda di Gawok sebelah barat daya Surakarta, dan mendapat kemenangan yang gemilang. Tetapi Pangeran Diponegoro terpaksa harus diangkut dengan tandu ke lereng Gunung Merapi, karena beliau terluka. Demikianlah taktik dan siasat perang gerilya Pangeran Diponegoro yang cukup mencemaskan Belanda. Sehingga Belanda berkesimpulan bahwa bila dengan cara perang biasa tidak mungkin dapat mematahkan perlawanan Pangeran Diponegoro. Selanjutnya Belanda menggunakan siasat baru untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro, yaitu sebagai berikut:
  • Sultan Sepuh yang pernah dibuang Belanda ke Ambon dikembalikan ke Yogyakarta dan diangkat menjadi sultan lagi (21 September 1826). Maksudnya supaya perlawanan menjadi reda dan diharapkan pula agar Pangeran Diponegoro mau tunduk kepadaSultan Sepuh, mengingat Sultan Sepuh adalah kakek Pangeran Diponegoro. Hal itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap jalannya peperangan, bahkan banyak bangsawan keraton yang menggabungkan diri dengan Pangeran Diponegoro.
  • Menggunakan siasat perbentengan. Setelah Jenderal Markus de Kock diangkat menjadi panglima seluruh pasukan Belanda (1827), lalu menggunakan siasat perbentengan (Benteng Stelsel), dengan cara: tiap kali Belanda berhasil merebut daerah-daerah Pangeran Diponegoro, di situ didirikan benteng-benteng yang dikelilingi dengan kawat berduri dan dijaga ketat. Antara benteng yang satu dengan benteng lain yang tidak seberapa jauh itu diadakan hubungan dengan pasukan gerak cepat. Siasat demikian dimaksudkan untuk mempersempit daerah kekuasaan Pangeran Diponegoro, dan untuk mencerai-beraikan pasukannya.
Akhir Perlawanan Pangeran Diponegoro 

Setelah Pangeran Diponegoro sembuh dari sakitnya, pada tanggal 17 November 1826 beliau berangkat ke Pengasih (sebelah barat Yogyakarta) untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda lagi. Perlawanan antara kedua belah pihak itu berhenti setelah diadakan gencatan senjata (10 Oktober 1827), wakil-wakil dari kedua belah pihak mengadakan perundingan, namun mengalami kegagalan. Pangeran Diponegoro mendirikan keraton di Sambirata (dekat Pengasih) sebagai pusat negara baru. Sedangkan Belanda (tahun 1828) mulai mendirikan benteng-benteng secara teratur, dengan maksud untuk mempersempit daerah kekuasaan Pangeran Diponegoro. Pada waktu Sambirata diadakan perayaan sehubungan dengan berdirinya pusat negara baru, Belanda secara mendadak mengadakan serangan terhadap Pangeran Diponegoro di Sambirata. Beruntung dalam serangan itu, Pangeran Diponegoro dapat meloloskan diri ke Pengasih melanjutkan peperangan. Sementara itu di Kroya, Sentot berhasil merampas empat ratus pucuk senapan dan meriam beserta mesiunya serta dapat menawan beratus-ratus orang Belanda. Akan tetapi Kyai Maja dapat ditangkap Belanda dalam pertempuran di lereng Gunung Merapi.

Untuk menangkap Pangeran Diponegoro, Belanda mengeluarkan maklumat (21 September 1829) yang menyatakan bahwa barang siapa dapat menangkap Pangeran Diponegoro baik hidup atau mati akan diberi hadiah sebanyak 50.000 gulden beserta tanah dan kehormatan. Maklumat tersebut dianggap sepi oleh rakyat yang setia terhadap pemimpinnya.

Pengkhianatan Belanda

Sejak akhir tahun 1828, kedudukan Pangeran Diponegoro menjadi makin sulit, karena:
  • Kyai Maja ditangkap oleh Belanda (12 Oktober 1828), yang kemudian dibuang ke Menado.
  • Sentot terpaksa menyerah kepada Belanda dengan pasukannya (16 Oktober 1828) karena kesulitan biaya dan termakan oleh bujukan Belanda. Kecuali itu banyak bangsawan pengikut Pangeran Diponegoro yang kembali ke keraton, karena tidak tahan menderita akibat kekejaman Belanda terhadap keluarga mereka.
  • Istri Pangeran Diponegoro (R.A Ratnaningsih) beserta puteranya tertangkap oleh Belanda (14 Oktober 1829).
Oleh karena usaha Belanda tersebut di atas itu tidak dapat mematahkan perlawanan Pangeran Diponegoro, maka Belanda menawarkan perundingan kepada Pangeran Diponegoro (tahun 1830), bertempat di markas Belanda Magelang dengan janji bila perundingan itu mengalami jalan buntu, Pangeran Diponegoro boleh kembali dengan bebas. 

Oleh Pangeran Diponegoro tawaran itu diterima. Maka sehari sesudah lebaran (28 Maret 1830) Pangeran Diponegoro beserta pengikut-pengikutnya memasuki kota Magelang untuk mengadakan kunjungan kehormatan dan persahabatan dengan Jenderal de Kock. Beliau diterima Jenderal de Kock dengan kehormatan di ruang kerjanya. Ketika Jenderal de Kock menanyakan syarat apa yang diinginkan, Pangeran Diponegoro menghendaki negara merdeka dan menjadi pimpinan mengatur agama Islam di Pulau Jawa. Jenderal de Kock menolaknya, dan melarang Pangeran Diponegoro meninggalkan ruangan. Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda yang ternyata telah menyiapkan penyergapan secara rapi. Dengan demikian, Belanda menjalankan pengkhianatan yang kesekian kalinya. Selanjutnya dengan pengawalan ketat, Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia, lalu dibuang ke Menado, kemudian dipindahkan ke Benteng Rotterdam di Makassar sampai wafatnya (8 Januari 1855). Jenazahnya dimakamkan di kampung Melayu Makassar. Demikianlah artikel tentang sejarah terjadinya perang Diponegoro. Semoga bermanfaat.

         


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar