Tuesday, 17 May 2011

MONOTEISME

Monoteisme secara harfiah berarti keyakinan hanya kepada satu Tuhan atau disebut juga tauhid. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dan kenabian Muhammad saw. sebagai puncak dan akhir dari komunikasi langsung Tuhan dengan manusia pilihan yang mendapat ilham Ilahiah. Satu fakta terpenting yang membimbing semua makhluk dan diajarkan oleh semua utusan Tuhan adalah kesaksian “tiada tuhan selain Allah”. Kesaksian ini mengandung arti bahwa banyak obyek sesembahan yang dipilih manusia tidak mempunyai otoritas atau kekuasaan yang sebenarnya, dan bahwa ketidaksetujuan serta kebencian yang timbul dari penyembahan yang salah arah ini sama sekali tidak perlu, karena hanya akibat dari ilusi manusia sendiri yang jahat dan merusak diri. Hal ini berarti, hanya ada satu standar spiritual dan moral yang menentukan nilai manusia dan hanya ada satu ukuran kemuliaan manusia.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat [49] : 13)

Pesan terpenting dari ayat di atas adalah bahwa perselisihan yang kita buat dengan kelompok lain merupakan gagasan yang keliru, karena kita semua harus patuh kepada Tuhan yang sama, Tuhan Yang Maha Tinggi.

Pada abad ketujuh, masing-masing suku di jazirah Arab mempunyai tuhan (dewa) mereka sendiri yang kepadanya mereka mencari perlindungan dan kasih sayang, dan kepadanya pula mereka memohon pertolongan dalam perseteruan abadi antar-suku. Mereka pada akhirnya menerima ajaran tauhid (monoteisme) Islam untuk mempersatukan faksi-faksi yang selalu berperang.


monoteisme islam


Monoteisme Islam tidak hanya menuntut kita menerima Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menerima konsekuensi yang semestinya : semua orang, laki-laki dan perempuan, adalah sama di bawah otoritas Tuhan. Dua tuntutan ini, ke-esaan Tuhan dan kesatuan manusia, sepanjang sejarah sulit ditegakkan di dalam tradisi agama, seperti dalam kasus agama Yahudi dan Nasrani yang begitu nyata ditunjukkan dalam al-Qur’an.

Kisah Bani Isra’il merupakan cerita tentang suatu bangsa yang mau menerima monoteisme, sekalipun mereka hidup di tengah-tengah lingkungan pergaulan yang didominasi oleh penyembahan berhala. Pengaruh dari luar kerap masuk ke komunitas mereka dan menyebabkan mereka terkadang ragu-ragu dengan ajaran nabi-nabi mereka. Dalam al-Qur’an, mereka muncul sebagai suatu bangsa yang terus-menerus berjuang di antara monoteisme murni dan tekanan-tekanan paganisme. Kondisi ini menjelaskan mengapa mereka mengisolasi diri dari lingkungan sosial mereka dan berupaya memelihara dan melindungi kemurnian ras dan budaya mereka. Tetapi mereka kemudian, dengan mengenyampingkan bangsa-bangsa lain, memandang diri mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan. Akibatnya mereka tidak pernah bisa menerima utusan Tuhan yang terakhir, karena dia bukan berasal dari bangsa Yahudi, walaupun pesan-pesan esensialnya ada dalam kitab suci mereka, dan al-Qur’an pun menyalahkan mereka atas pengingkaran itu. Singkatnya, agama Yahudi, sekalipun berhasil dalam menjaga keimanan kepada satu Tuhan, tidak dapat menerima kesatuan manusia di bawah Tuhan.

Agama Nasrani berangkat dari akar kitab suci yang sama. Tetapi, Nasarani adalah agama universal. Pertalian ajarannya bersumber dari suatu kerinduan spiritual yang intens untuk mengenal dan dicintai Tuhan. Kesulitan terbesar yang dihadapi oleh agama-agama yang universal seperti itu adalah sangat beragamnya bangsa-bangsa yang diserapnya. Para pemeluk barunya membawa bahasa, ide-ide, simbol-simbol, dan budaya mereka sendiri. Meskipun ajaran ini sangat ingin merangkul semua manusia, tapi prinsip-prinsipnya membahayakan monoteisme murni dan terlalu mudah untuk menyekutukan sesuatu dengan Tuhan. Dengan demikian, pengalaman agama Yahudi-Nasrani menunjukkan dilema yang dihadapi oleh semua agama dunia : ke-esaan Tuhan dan universalisme selalu terancam dalam upaya menjaga salah satunya.

Persoalan mempertahankan kedua aspek monoteisme ini memperjelas berakhirnya misi kenabian dengan nabi akhir zaman, Nabi Muhammad saw. Selama suatu agama merasakan adanya kebutuhan wahyu baru di masa mendatang, maka pintu bagi nabi-nabi palsu terbuka. Para pendusta dan pribadi-pribadi yang menipu diri sendiri selalu muncul untuk menyesatkan manusia lain dan memecah belah umat. Sumber perpecahan yang besar ini mengancam persatuan para penganut agama tersebut lebih dalam dan langgeng daripada perselisihan soal hukum apa pun. Setiap agama besar, termasuk Islam, telah mengetahui bahaya ini, namun berakhirnya misi kenabian dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. betul-betul mengunci kecenderungan ini. Seorang pemimpin muslim saat ini mungkin mendapatkan penghormatan dan kesetiaan dari banyak pengikutnya, tetapi ia tidak mungkin memperoleh kepercayaan mutlak dari mereka—suatu kesetiaan absolut yang dicapai karena suatu persepsi bimbingan Ilahiah. Saat seorang pemimpin mengklaim memperoleh status seperti itu, gerakannya pasti berakhir menjadi suatu sekte keagamaan yang remeh dan terputus dari komunitas muslim. Banyak sarjana Barat menunjuk gerakan-gerakan seperti Bahai dan Qadiyani, sebagai sekte-sekte Islam, meskipun penunjukan itu tidaklah pas dan menyesatkan. Dunia muslim tidak menganggap kelompok ini sebagai alternatif, di dalam komunitas muslim; mereka dianggap benar-benar berada di luar Islam. Tidak ada satu pun dari gerakan semacam itu yang menarik banyak orang Islam, walaupun mereka mungkin mendapatkan pemeluk-pemeluk baru dari populasi lain. Hal ini disebabkan keimanan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir dan penutup merupakan salah satu prinsip ajaran Islam.

Syahadat adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk menyatakan keimanan dalam Islam. Kesaksian ini dinyatakan paling tidak sembilan kali sehari oleh orang muslim dalam shalat mereka. Di paro pertama syahadat, seorang muslim bersaksi bahwa “tidak ada tuhan selain Allah”, sedang di paro kedua ia bersaksi bahwa “Muhammad adalah utusan Allah”. Dengan pernyataan kedua itu, seorang muslim memahami bahwa Nabi Muhammad saw. bukan hanya utusan Allah, tapi juga nabi terakhir dan satu-satunya manusia yang harus diikuti. Jadi, syahadat menghubungkan monoteisme Islam dengan finalitas risalah Nabi Muhammad saw. Dari sudut pandang orang muslim, kerasulan Muhammad saw. diperlukan demi tegaknya kesaksian terus-menerus di dunia terhadap kedua implikasi monoteisme tadi—ke-esaan Tuhan dan kesatuan manusia—dan berakhirnya kenabian dengan kenabian Muhammad saw. diperlukan untuk mempertahankan dan menjaga kesaksian itu dari fragmentasi di kemudian hari. وَاللهُ اعلم
Silahkan baca juga Filsafat Kerasulan Nabi Muhammad SAW            
   
 

No comments:

Post a Comment