Sunday, 17 June 2012

SEJARAH TERAJADINYA PERANG MALUKU

Sejarah terjadinya perang maluku dalam artikel ini mencoba mendeskripsikan tentang sejarah terjadinya perang maluku. Berdasarkan Perjanjian London (1814), Kepulauan Nusa Tenggara diserahkan kepada Belanda oleh Inggris. Kedatangan Belanda di daerah tersebut mendapat perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Pattimura (Matulessey), sebab:
  • Penindasan sewenang-wenang bangsa Belanda terhadap penduduk Maluku pada zaman VOC itu menimbulkan kecemasan umum dengan adanya hak ekstirpasi, monopoli perdagangan, pelayaran dera, pembunuhan, penculikan, dan lain-lain merupakan bencana besar bagi penduduk Maluku.
  • Rakyat tidak puas terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh gubernur Maluku, karena rakyat diwajibkan menyediakan perahu untuk keperluan pemerintah, padahal pada zaman pemerintah Inggris sudah ditiadakan. Selain itu rakyat juga masih dikenakan rodi.
  • Monopoli perdagangan yang telah dihapuskan diberlakukan lagi oleh Belanda. Meletusnya perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda, waktu terjadi penolakan Residen van den Berg atas tuntutan rakyat mengenai harga perahu yang sudah dipesan dibayar lebih murah dari harga yang ditetapkan semula.

Dalam perjuangan melawan Belanda, rakyat Maluku memilih Pattimura sebagai pemimpinnya. Ternyata Pattimura merupakan seorang pemimpin yang berani dan tangguh dalam mengatur siasat perang. Mengingat wilayah Maluku terdiri dari pulau-pulau, maka Pattimura merencanakan untuk mengumpulkan perahu guna mengangkut pasukannya. Dalam penyerangannya terhadap benteng Belanda nanti (Benteng Duurstede) sekaligus direncanakan untuk membunuh penghuni beserta orang-orangnya yang dianggap berkhianat.


sejarah perang maluku, perang maluku

Serangan pertama terhadap Belanda dilancarkan pada malam hari tanggal 15 Mei 1817. Serangan ini berhasil dengan dibakarnya perahu-perahu pos di Porto (pelabuhan). Sesudah itu mereka berbondong-bondong mengepung Benteng Duurstede. Keesokan harinya , benteng tersebut diserang dan berhasil direbutnya. Pada saat itu, Residen van den Berg beserta keluarga dan pengawalnya yang sedang berada di benteng tersebut berhasil dibunuh. Dengan demikian rencana Pattimura seperti yang diharapkan semula dapat berhasil.

Untuk membalas serangan dan merebut Benteng Duurstede, pada tanggal 19 Mei 1817 Belanda mendatangkan bantuan dari Ambon ke Haruku. Bantuan yang didatangkan itu berkekuatan 200 orang prajurit dan di bawah pimpinan seorang mayor. Mereka memusatkan pertahanannya di Benteng Zeelandia. Raja-raja di Maluku sudah mengerahkan rakyatnya untuk menyerang Benteng Zeelandia. Belanda menerobos kepungan rakyat dan meneruskan perjalanannya ke Saparua. Terjadilah pertempuran yang sengit di Saparua. Dalam pertempuran ini, Belanda banyak menderita kerugian besar, karena banyak tentara Belanda yang tewas termasuk pemimpinnya. Dengan demikian, pihak Pattimura dapat menguasai Duurstede, berarti kemenangan ada di pihak Pattimura. Dalam mempertahankan Benteng Duurstede ini, Matulessey dibantu oleh beberapa orang raja, antara lain Paulus Tiahahu beserta putrinya yang bernama Christina Martha Tiahahu, sehingga menyulitkan bagi Belanda untuk merebut kembali Benteng Duurstede.

Kemenangan yang gemilang ini menambah semangat juang rakyat Maluku, sehingga perlawanan terhadap Belanda meluas ke daerah-daerah lain, seperti di Hitu, Seram, dan lain-lain. Perlawanan terhadap Belanda di Hitu ditangani oleh Ulupaha (berusia 80 tahun), tetapi masih mempunyai daya juang yang gigih. Karena pengkhianatan oleh bangsa sendiri, Ulupaha terdesak dan ditangkap oleh Belanda.

Pada bulan Juli 1817, Belanda mendatangkan bantuan berupa kapal perang yang diperlengkapi dengan meriam-meriam. Benteng Duurstede yang diduduki pasukan Pattimura itu terus menerus dihujani oleh meriam-meriam yang ditembakkan dari laut. Dengan demikian, Benteng Duurstede dapat diebut kembali oleh Belanda (tahun 1817). Meskipun demikian, perlawanan belum dapat dikatakan berakhir. Pasukan Pattimura masih melanjutkan perlawanannya dengan mempergunakan siasat perang gerilya.

Untuk menghadapinya Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran, sehinga setapak demi setapak Belanda dapat menguasai daerah-daerah perlawanan pasukan Maluku. Dalam pertempuran yang terjadi pada pertengahan bulan November 1817 pasukan Belanda dapat menangkap Thomas Matulessey, Anthonie Rhebok, Thomas Pattiwael dan Raja Tiow. Pada tanggal 16 Desember 1817, Pattimura atau Thomas Matulessey menjalani hukum gantung di depan Benteng Nieuw Victoria di Ambon. Dengan tertangkapnya tokoh-tokoh tersebut, perlawanan di Maluku dapat dipadamkan. Demikianlah artikel tentang sejarah terjadinya perang maluku. Semoga bermanfaat.
Silahkan baca juga Sejarah Terjadinya Perang Banjar

No comments:

Post a Comment