Wednesday, 20 June 2012

SEJARAH TERJADINYA PERANG BANJAR

Sejarah terjadinya perang banjar dalam artikel ini mencoba mendeskripsikan sejarah terjadinya perang banjar. Perang Banjar terjadi di Kalimantan Selatan dan terjadi beberapa tahun kemudian setelah Sultan Adam wafat. Adapun sebab-sebab terjadinya Perang Banjar dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Rakyat tidak puas terhadap campur tangan Belanda dalam penggantian tahta di Banjar.

Sultan Adam memerintah tahun 1825-1857. Sebelum wafat beliau mengangkat puteranya yang bernama Prabu Anom sebagai penggantinya. Pemerintah Belanda tidak menyetujuinya, karena Belanda mengetahui bahwa Prabu anom memusuhi Belanda. Belanda menunjuk putera Sultan Adam yang lain yang bernama Bagusnya, tetapi meninggal dunia pada tahun 1852.

Selanjutnya terjadilah kericuhan-kericuhan dalam soal pemilihan calon pengganti sultan. Akhirnya Sultan Adam menunjuk cucunya yang bernama Pangeran Hidayatullah, tetapi Belanda mencalonkan cucunya yang lain yang bernama Pangeran Tamjidillah. Setelah Sultan Adam wafat (tahun 1857), Belanda memaksakan Pangeran Tamjidillah untuk menjadi sultan Banjar yang ke-21, dan Pangeran Hidayatullah sebagai mangkubumi dengan maksud untuk menghapuskan Kesultanan Banjar.


sejarah perang banjar, perang banjar

Pangeran Tamjidillah setelah menjadi sultan, memfitnah Pangeran Hidayatullah dengan cara menyuruh orangnya untuk merusak bangunan-bangunan tambang batu bara di Pengaron yang menjadi milik Belanda dengan maksud agar kesalahannya ditimpakan kepada Pangeran Hidayatullah. Tetapi setelah diadakan pengusutan, tipu muslihat Pangeran Tamjidillah itu diketahui oleh Belanda. Pangeran Tamjidillah terpaksa diturunkan dari tahta dan daerah Kesultanan Banjarmasin dihapuskan oleh Belanda (Juni 1860).

2. Belanda menangkap Prabu Anom (1857) seorang bangsawan yang terkenal memusuhi Belanda.

Dengan adanya penangkapan Prabu Anom yang terus diasingkan ke Bandung, menimbulkan kemarahan rakyat. Akibatnya rakyat Banjar mengadakan perlawanan di bawah pimpinan Pangeran Antasari yang mendapat dukungan dari: Kyai Demang Leman, Tumenggung Surapati,dan lain-lain.

Jalannya Peperangan

Pada bulan April 1859 Pangeran Antasari melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda di Martapura dan berhasil merebut benteng Belanda di Tabanio. Pada bulan Desember 1859 rakyat Banjar di bawah pimpinan Kyai Demang Leman mengadakan pertempuran sengit melawan Belanda. Perlawanan itu semakin meluas setelah Pangeran Hidayatullah bergabung dengan Pangeran Antasari. Dalam pertempuran di sungai Barito, Tumenggung Surapati dapat menghancurkan kapal Onrust milik Belanda. Belanda lalu mengirimkan kapal Suriname, tetapi dapat ditembak oleh Tumenggung Surapati dari bentengnya sehingga mengalami kerusakan. Rakyat Banjar menjadi tambah marah setelah mendengar bahwa Kesultanan Banjar dihapuskan oleh Belanda secara resmi pada tanggal 11 Juni 1860. Sejak itulah perlawanan rakyat Banjar makin meluas dan menghebat. Para kepala daerah dan kaum ulama ikut mengadakan pemberontakan. Walaupun Pangeran Hidayatullah sudah menguras tenaga untuk berjuang dengan mati-matian melawan Belanda, namun karena kurang lengkap persenjataannya, maka pasukan Pangeran Hidayatullah makin terdesak dan makin lemah. Akhirnya pada tahun 1861 Pangeran Hidayatullah menyerah dan dibuang oleh Belanda ke Cianjur.

Menyerahnya Pangeran Hidayatullah itu, mengakibatkan semangat juang Pangeran Antasari makin gigih. Beliau terus berjuang sampai wafatnya (Oktober 1862). Sepeninggal Pangeran Antasari, perlawanan terhadap Belanda masih berjalan terus, dan dilanjutkan oleh pejuang-pejuang yang lain. Para pejuang itu akhirnya banyak yang ditangkap oleh Belanda, di antaranya ialah Kyai Demang Leman yang dijatuhi hukuman gantung di Martapura. Karena banyaknya pemimpin-pemimpin Banjar yang ditangkap dan gugur, menyebabkan perjuangan rakyat Banjar semakin menjadi lemah. perlawanan mereka yang pantang mundur itu cukup menghambat penguasaan Belanda atas daerah Kalimantan Selatan. Demikianlah artikel tentang sejarah terjadinya perang banjar. Semoga bermanfaat.
Silahkan baca juga Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

No comments:

Post a Comment