Sunday, 14 August 2011

RENUNGAN UNTUK PARA PEJABAT



Kekuasaan seringkali memabukkan dan membingungkan. Orang yang memegang kekuasaan (pejabat) seringkali sulit membedakan mana yang milik pribadi dan mana yang merupakan fasilitas negara. Akibatnya, banyak aktifitas pejabat yang sifatnya pribadi tetapi menggunakan fasilitas yang dibiayai negara.

Umar bin Khattab, salah seorang khalifah dari al-Khulafa al-Rasyidin memberikan tauladan yang baik tentang bagaimana seharusnya menjadi pejabat. Diceritakan bahwa suatu malam sahabat Umar bin Khattab didatangi saudaranya. Ketika itu ia sedang mengerjakan tugas negara di ruang pribadinya. Dengan diterangi lampu minyak, ia menyelesaikan beberapa berkas negara. Lalu datanglah saudaranya itu dan bermaksud bertemu dengan khalifah karena ada hal yang ingin disampaikannya.

“Kamu ingin membicarakan masalah keluarga atau masalah negara?” kata Umar  bin Khattab kepada saudaranya itu. Lalu dijawab bahwa ia akan membicarakan persoalan keluarga dengan sang khalifah. Seketika itu juga lampu di depannya ia matikan.


renungan untuk pejabat

Melihat kejadian itu, saudara Umar bin Khattab tersebut heran lalu bertanya : “Wahai khalifah, kenapa engkau matikan lampu itu?”. Dengan suara rendahnya Umar bin Khattab menjawab : “Apa yang ingin kau bicarakan adalah urusan keluarga bukan urusan negara. Sedangkan lampu ini dibiayai oleh negara. Maka tak selayaknya pembicaraan ini menggunakan fasilitas negara”. Mendengar perkataan Umar bin Khattab, saudaranya itu pun terkejut dan hanya diam sambil merenungi perkataan Umar bin Khattab.

Kisah itu mungkin dianggap terlalu sederhana dan tidak wajar. Tetapi dari kisah itu lahir tauladan yang mulia bahwa kekuasaan tak selayaknya untuk urusan pribadi. Bagi sahabat Umar bin Khattab saat itu sangat mudah memanfaatkan apa yang diberikan negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, karena kekuasaan saat itu penuh berada di tangan Umar bin Khattab. Tetapi itu tidak beliau lakukan. Sebab Umar bin Khattab sadar bahawa apa yang diamanatkan kepadanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah saw. telah menegaskan bahwa setiap yang diamanatkan kepada seseorang pasti akan dimintai pertanggungjawabannya, termasuk seorang imam (pemimpin), ia akan dimintai pertanggungjawaban perihal apa yang pernah ia lakukan ketika memimpin.

Dalam sejarah disebutkan terdapat sebuah nasehat ulama besar al-Hasan putra al-Hasan al-Bashri kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dalam suratnya, al-Hasan menulis : “Ketahuilah, wahai Amirul Mukminin bahwa Allah swt. menjadikan imam sebagai penegak segala yang rubuh, pelurus segala yang bengkok, pelaku perbaikan segala yang rusak, kekuatan bagi semua yang lemah, keadilan bagi yang teraniaya, serta tempat berlindung bagi semua yang takut”.

Surat nasehat itu menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah suatu keistimewaan, tetapi tanggung jawab. Ia bukan fasilitas, tetapi pengorbanan. Ia bukan juga bukan kesewenang-wenangan bertindak, tetapi kewenangan melayani. Kepemimpinan adalah keteladanan berbuat dan kepeloporan bertindak. Semoga bermanfaat.
Silahkan baca juga Memilih Pemimpin Yang Amanah

No comments:

Post a Comment