Friday, 11 July 2014

MEMILIH PEMIMPIN YANG AMANAH

Memilih pemimpin yang amanah memang bukan pekerjaan yang mudah tapi bukan hal mustahil yang bisa kita lakukan. Seorang pemimpin memang wajib bersifat amanah, karena jabatan/kekuasaan adalah suatu amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai pelajaran sekaligus renungan bagi kita, mari kita perhatikan jawaban surat yang diajukan Umar Ibn Abdul Azis (tatkala diangkat menjadi seorang khalifah) kepada seorang ulama besar yang bernama Hasan al-Basri.
Al-imamul adil, wahai amirul mukminin, bagaikan ibu
yang belas kasih terhadap anaknya; rela menanggung beban mengandung 
dan melahirkannya; mendidiknya penuh kesabaran;
menjaganya siang malam; gembira bila anak-anaknya sehat dan
sedih ketika ada keluhan sakit darinya.
Potongan kalimat di atas adalah sebagian isi jawaban surat dari Hasan al-Basri kepada Umar Ibn Abdul Azis. Keingina yang kuat dalam diri Umar Ibn Abdul Azis agar dapat menjalankan amanah dengan baik, membuat dirinya bersegera menulis surat kepada ulama Hasan al-Basri untuk memohon petunjuk tentang bagaimana seharusnya memnjadi pemimipin yang amanah dan adil.

Dalam sejarah kita tahu bahwa Umar Ibn Abdul Azis merupakan seorang khlalifah yang sukses dalam memimpin, tidak hanya dalam bidang politik, melainkan pula dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, serta keamanan. Mencermati surat di atas, memang tepat sekali perumpamaan yang dipilh oleh ulama besar Hasan al-Basri mengenai sosok pemimpin pada rakyatnya. Yaitu seperti seorang ibu yang penuh kasih sayang pada sang anak, begitu juga seharusnya seorang pemimipin pada rakyatnya. Penuh perhatian pada rakyat merupakan sebuah sifat yang seharusnya ada dalam diri seorang pemimpin. Sehingga kekuasaan yang berada pada tangannya dijadikan alat guna mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya, dan bukan sebaliknya. Yaitu menjadikan dirinya sebagai prioritas utama dalam menggapai kesejahteraan, kemudian baru rakyatnya.

soekarno, hatta

Dalam kaitan inilah, tepat kiranya jika kita mengambil pelajaran dari sosok Nabi Muhammad saw. yang menjadikan diri beliau seorang pemimpin yang merasakan lapar lebih dahulu, dan merasa kenyang di saat umatnya telah merasa kenyang. Artinya, kepentingan dan kesejahteraan umatlah yang menjadi prioritas utama dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Hal itu dapat dibuktikan antara lain dengan tidak adanya istana dan singgasana yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. Bahkan alas beliau pun hanyalah pelepah kurma yang membekas di tubuh beliau, bukan kasur empuk, sebagaimana dimiliki oleh para pemimpin atau penguasa lainnya.

Dalam kaitannya dengan hajatan pemilihan presiden dan wakil presiden di republik ini, dimana proses pemilihannya dilakukan secara langsung, menjadi tugas kita bersama untuk menentukan pilihan pada calon pemimpin yang kita anggap dapat mengemban amanah serta dapat mengemban tugas dengan baik. Paling tidak, apa yang telah dilakukan oleh para kandidat presiden dan wakil presiden pada masa silam, dapat menjadi rujukan kita dalam menentukan pilihan. Sifat-sifat yang lebih mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, golongan dan partainya, merupakan diantara pertimbangan kita dalam menentukan pilihan pada calon pemimpin negeri ini. Sehingga harapan dan keinginan kita bersama agar negara ini keluar dari krisis yang berkepanjangan (terutama agar negara ini bebas dari korupsi yang sangat menyengsarakan rakyat), bukanlah hanya sebuah impian indah semata. Semoga bermanfaat.
Silahkan baca juga Renungan Untuk Para Pejabat  


    

No comments:

Post a Comment